Minggu, 30 September 2012

Komplek Pemakaman Sabokingking

Dilalui Kapal Besar, Tempat Pertemuan Wali Serta Raja, Cukup banyak komplek pemakaman raja Palembang. Salah satu yang tertua dan cukup unik, komplek pemakaman Sabokingking, di kawasan I Ilir, Sungai Buah, Kecamatan Ilir Timur (IT) II.Dari letaknya yang dikelilingi sungai, konon sebelum menjadi areal pemakaman, tempat ini merupakan tempat pertemuan. Para ulama serta raja Palembang. Wajar jika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Palembang menjadikan...

Makam Ki Gede Ing Suro, Jejak Awal Kerajaan Islam Palembang

Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, ini terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38.Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekitar pertengahan abad 16 ini adalah Ki Gede Ing Suro. Dialah pendiri kerajaan Islam Palembang, yang kemudian menjadi...

Kamis, 13 September 2012

Penulis Kamus Baso Pelembang

Prof Drs Baderel Munir Amin MA, Tambah Kosakata Via FB, Rancang Edisi KeduaPria ini asli Palembang. Meski 30 tahun terakhir ia telah tinggal di Ibukota Jakarta, tetap saja Prof Drs Baderel Munir Amin MA memperhatikan kebudayaan asli Palembang. Yakni, baso Pelembang yang kini dikuasai segelintir orang tua sebagai generasi terakhir. Sukses menyusun buku “Tata Bahasa dan Kamus Baso Pelembang” tahun 2010 lalu bersama keluarga besarnya, Baderel kini berencana...

Rabu, 12 September 2012

Menyibak Misteri “Antu Banyu”

Benarkah Ada Ataukah Sekedar Legenda?Korban tewas di perairan sungai tak sedikit dikaitkan dengan unsur mistis. Umumnnya dikaitkan dengan antu banyu. Di kawasan Sumsel, sebutan tersebut sudah sangat familiar. Apakah sekedar tahayul atau benar adanya, banyak keluarga korban yang tewas tenggelam, kemudian memanggil pawang untuk menemukan jasad keluarga mereka. Lantas, seperti apa antu banyu acapkali disebut-sebut masyarakat tersebut? Berikut penelusuran...

Kamis, 19 Juli 2012

Bahasa Jawa, Arab, Melayu di Palembang

Keraton Kesultanan Palembang berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, Arab, dan Melayu. Bahasa melayu hidup di kawasan ini jauh sebelum Kesultanan berdiri dan di yakini sebagai bahasa masyarakat asli. Tertulis dengan huruf pallawa, bahasa Melayu di gunakan dalam Prasasti Kedukan Bukit (682 M). Prasasti yang ditemukan ditepi Sungai Tatang, sebelah barat Kota Palembang, pada tahun 1920, menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya.Berbagai temuan...